Lika-liku Kehidupan Para Penghuni Apartemen

Hunian berupa apartemen kini sering dipilih oleh generasi muda. Banyak orang yang memutuskan untuk tinggal di apartemen karena praktis dan simple. Terlebih bagi para pekerja perkotaan dengan jam produktivitas tinggi. Tinggal di apartemen membuat kehidupan sehari-hari menjadi lebih efisien. Plus, ada beragam fasilitas di luar unit yang bisa dinikmati untuk sekedar menghibur diri seperti kolam renang, pusat kebugaran, dan lainnya. Juga ada kebanggan tersendiri ketika seseorang bisa tinggal di apartemen.


Andapun pernah terpikir untuk sewa apartemen saja daripada kos. Hal itu bisa jadi pilihan yang bagus. Namun, supaya tidak menyesal di kemudian hari, perlu diketahui pula kalau tinggal di apartemen tak selalu menyenangkan. Mereka yang hidup di apartemen punya lika-liku tersendiri yang disebabkan oleh berbagai faktor, misalnya:

Ruangan yang kurang luas

Sudah menjadi hal yang umum apabila apartemen memiliki luas ruangan yang lebih sempit dibandingkan rumah. Hal ini dikarenakan luas apartemen dibagi dengan unit yang lainnya. Anda juga tidak bisa mengubah konstruksi dari unit apartemen yang Anda miliki. Selain itu, apartemen juga tidak bisa berkembang menjadi lebih tinggi atau lebih luas. Dengan ruangan yang lebih sempit ini, Anda juga pandai-pandai ketika membeli furnitur baru untuk unit apartemen Anda, supaya tidak terlalu memakan banyak ruang.

Aturan yang berlaku

Mungkin banyak orang beranggapan kalau tinggal di apartemen itu sangat bebas. Faktanya, memang lebih bebas dari kos. Namun, tetap ada sejumlah peraturan yang diberlakukan oleh pengelola apartemen dan harus dipatuhi oleh semua penghuni. Hal ini guna menjaga kekondusifan lingkungan apartemen itu sendiri.

Kendati demikian, tetap saja terkadang ada penghuni yang melanggar peraturan tersebut. Misalnya, penghuni yang membawa teman-temannya dan mereka membuat kegaduhan hingga larut. Atau membuat pesta tanpa izin terlebih dahulu. Tetangga unit yang kerap membuat keributan kadang “ngeyel” meski sudah diberi teguran.

Tetangga yang individualis

Jika Anda nyaman untuk tinggal sendiri dan ingin menjaga privasi, maka apartemen adalah pilihan yang cocok ketimbang rumah kos yang cenderung ramai. Namun, tak dipungkiri kalau mereka yang hidup di apartemen kebanyakan individualis. Apalagi apartemen di pusat perkantoran di mana mayoritas penghuninya adalah pekerja sibuk. Mereka cenderung untuk tidak peduli dengan apa yang dilakukan oleh tetangga sebelah. Jika terjadi sesuatu, akan sulit untuk meminta bantuan tetangga sebelah di apartemen karena biasanya tidak menyaksikan langsung kejadian.

Maintenance fee yang mahal

Tinggal di apartemen bukan hanya sebatas bayar sewa saja. Ada biaya perawatan dan lainya yang harus rutin dibayar per bulan, dan itu biasanya tidak termasuk ke dalam biaya sewa. Biaya tersebut antara lain biaya servis, listrik, air, internet, iuran pemeliharaan lingkungan, parkir, dan sinking fund. Jika bergaji pas-pasan, biaya di luar sewa semacam ini cukup memberatkan keuangan.

Layanan pengelola yang kurang memuaskan

Ada harga yang dibayar untuk sebuah kenyamanan. Itulah yang terjadi ketika tinggal di apartemen. Kita membayar maintenance fee dan lain-lain secara rutin, dan seharusnya pengelola dapat memberikan pelayanan yang memuaskan. Sayangnya, tak semua pengelola bisa diandalkan. Misalkan ketika ada kebocoran di unit, terkadang pengelola lambat mengirim petugas untuk memeriksa dan memperbaiki kerusakan tersebut. Juga kalau lift rusak, terkadang dibiarkan untuk waktu yang lama padahal para penghuni banyak yang komplain.

Membeli ataupun apartemen adalah pilihan pribadi. Namun, perhatikan juga semua faktor baik dan buruk yang bisa timbul agar tidak kecewa dan menyesal di kemudian hari. Setelah membaca beberapa lika-liku kehidupan tinggal di apartemen di atas, semoga Anda bisa membuat keputusan bijak. Tentu saja poin-poin diatas belum tentu terjadi, namun bisa diprediksi dan diantisipasi.